JoomlaTemplates.me by Discount Bluehost

Selangkah Lebih Dekat Dengan IPD

IPD (Invasive Pneumococcal Disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri pneumokokus (streptoccoccus pneumoniae). Bakteri tersebut secara cepat dapat masuk ke dalam sirkulasi darah dan merusak (invasif) serta dapat menyebabkan infeksi selaput otak (meningitis) yang biasa disebut radang otak. Penelitian menunjukkan, sebagian besar bayi dan anak di bawah usia 2 tahun pernah menjadi pembawa (carrier) bakteri pneumokokus di dalam saluran pernapasan mereka.

Oleh karena itu, bayi baru lahir hingga bocah usia 2 tahun berisiko tinggi terkena IPD. Yang paling fatal bila bakteri pneumokokus menyerang otak. Pada kasus-kasus meningitis seperti ini, kematian akan menyerang 17% penderita hanya dalam kurun waktu 48 jam setelah terserang. Kalaupun dinyatakan sembuh umumnya meninggalkan kecacatan permanen, semisal gangguan pendengaran dan gangguan saraf yang selanjutnya memunculkan gangguan motorik, kejang tanpa demam, keterbelakangan mental dan kelumpuhan.

Dari ketiga bakteri yang biasa menyebabkan meningitis (Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae type B, dan Neisseria meningitis), Streptococcus pneumoniae merupakan bakteri yang seringkali menyerang anak di bawah 2 tahun. Meningitis karena bakteri pneumokokus ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam waktu 48 jam. Bila sembuh pun sering kali meninggalkan kecacatan permanen.

Vaksinasi dipercaya sebagai langkah protektif terbaik mengingat saat ini resistensi kuman pneumokokus terhadap antibiotik semakin meningkat. Karena anak-anak di bawah usia 1 tahun memiliki risiko paling tinggi menderita IPD, maka amat dianjurkan agar pemberian imunisasi dilakukan sedini mungkin. Untungnya, saat ini sudah ditemukan vaksin pneumokokus bagi bayi dan anak di bawah 2 tahun.

(dari artikel sebuah tabloid kesehatan, oleh: Sukman Tulus Putra, dr.,Sp.A.(K), FACC, FECS, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI))

Apakah vaksinasi ini dipakai di tempat lain?

Di Indonesia baru tahun ini 2006, tapi di Amerika, sejak 2000 sudah disuntikan wajib dan laporan ilmiah tahun 2001 telah 23 juta dosis diberikan dengan efek samping yang tidak jauh lebih banyak dari efek samping imunisasi rutin saat itu. Sampai sekarang telah direkomendasikan di Amerika , Australia , Korea , Philipina, Spanyol , Malaysia , Singapore dan Canada.

Apakah sudah dilaksanakan di Indonesia ?

Situs resmi IDAI (www.idai.or.id) belum memasang jadwal terbaru setelah jadwal tahun 2004 hasil revisi. Menurut salah seorang dokter di milis sehat(1): Dari bocoran hasil rapat Satgas imunisasi IDAI di medan (1-5 mei) direkomendasikan untuk dimasukkan bersamaan vaksin influensa pada jadwal rekomentasi IDAI 2006. Menurut situs majalah Anakku (www.anakku.net dibuka pada tanggal 19 Mei 2006): Vaksinasi IPD direkomendasikan oleh IDAI sejak tahun 2006 bersamaan dengan mulai direkomendasikannya vaksinasi Influenza.

Kapandiberikan Vaksinasi ini?

Imunisasi IPD pada usia:

  • < 6 bulan diberikan dasar 3 kali jarak 2 bulan dan penguat/ulangan (booster) pada usia 12 – 15 bulan. Total 4 kali.
  • 6 - 12 bulan diberikan dasar 2 kali, dan penguat seperti di atas. Total 3 kali.
  • 12 – 24 bulan diberikan dasar 2 kali tidak perlu penguat. Total 2 kali.
  • > 24 bulan. Diberikan 1 kali. Total 1 kali.

Apa nama vaksin IPD?

Ada dua jenis yang sudah beredar dan ada yang dalam pengembangan/penelitian.

  • Prevenar atau PCV 7 (diseluruh dunia sama mereknya): berisi 7 serotype (4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F and 23F). Bisa diberikan pada sejak bayi usia 2 bulan. Harganya relatif mahal.
  • Pneumo23. Berisi 23 serotype, diberikan pada anak berusia lebih dari 2 tahun. Harganya lebih murah.
  • Sedang dikembangkan vaksin baru berisi 9 serotype (prevenar ditambah serotype 1 dan 5, yang banyak menimbulkan pneumococcus disease di negara berkembang. Diharapkan ijinnya akan keluar 2-3 tahun lagi. (Produksi Wyeth)
  • Sedang dikembangkan juga vaksin berisi 11 serotype (produksi GSK dan Sanofi-Pasteur).

Apa efek samping vaksinasi ini?

Menurut labelnya, efek samping yang sering terjadi (very common) pada pemberian prevenar pada saluran pencernaan adalah diare dan muntah.

Menurut artikel oleh dokter Sukman Tulus Putra: Reaksi terhadap vaksin yang terbanyak dilaporkan adalah demam ringan < 38 derajat Celcius, rewel, mengantuk (drowsy), dan beberapa reaksi ringan lainnya yang biasa ditemui pada pemberian berbagai jenis vaksin.

Dalam praktek, salah seorang dokter di milis sehat(1) menyampaikan: dari 20an kasus, 5-8 pasien menelefon dan mengatakan panas tapi tidak tinggi (<38). Ada 1 pasien yang nafsu makannya menurun dan panasnya > 38. Belum ada yang mengeluh diare dan muntah.

Apa yang perlu diperhatikan?

Bila ada riwayat reaksi alergi terhadap imunisasi Dipteria (DPT), maka tidak diberikan imunisasi IPD jenis Prevenar (kontraindikasi), karena dalam Prevenar ada kandungan varian dari Diphteria toxin (sebagai protein-carrier).

Pemberian imunisasi IPD tidak menghapus jadwal imunisasi yang lain (seperti HiB, tetap seperti jadwalnya).

Apa kendalanya?

Harga vaksinasi masih relatif tinggi. Dilaporkan berkisar 850-950 ribu rupiah (Prevenar).

Apakah benar-benar diperlukan di Indonesia ?

Menurut WHO:

It can be difficult to establish the extent of pneumococcal disease as developing countries often lack the clinical and laboratory facilities, the expertise, and the resources to do so. As a result, public health decision-makers are often unaware of the prevalence of the disease and of the toll it exacts in death and disability. Because of the scarcity of data from developing countries, there is concern over whether the seven-and nine-valent vaccines contain the serotypes appropriate for all countries.

Concerns remain – although results to date are encouraging – that prevention of some serotypes of pneumococcal disease may lead to increased incidence of other serotypes. The price of the vaccine, although still to be set for developing countries, may be too high for them to afford without special financing arrangements.

Menurut salah seorang dokter:

Sebenarnya masih ada pertanyaan apakah serotype yang digunakan pada Prevenar sesuai dengan serotype di Indonesia. Karena itu baru akan dilakukan penelitian. Kalau misalnya lebih spesifik dan lebih sedikit jumlahnya, mungkin bisa diproduksi dengan harga lebih murah.

Menurut informasi dari seorang SpA:

Sakit IPD-nya sudah jelas ada, hanya soal apa serotypenya. Pemilihan 7 serotype ini didasarkan pada pemberian di Malaysia, Singapura, Philiphina dan Australia yang dianggap berdekatan dan memiliki ciri geografis seperti Indonesia .

Saat ini yang sudah diteliti ada di tiga tempat: Jakarta (3), Bandung (4) dan Mataram (5). Dari ketiganya, baru Mataram yang sudah diketahui serotypenya. Tahun ini akan dilakukan penelitian multi-senter di 5 tempat, untuk memastikan jenis serotype-nya. Hasilnya mungkin baru tahun depan diketahui dengan pasti.

Catatan Tambahan

Apa beda serotype pada Prevenar dan Pneumo23?

  • Prevenar atau PV7 berisi 7 serotype Streptococcus pneumonia: 4, 6B, 9V, 14, 18C, 19F and 23F
  • Pneumor23 berisi 23 serotype: 1, 2, 3, 6B, 7F, 8, 9N, 9V, 10A, 11A, 12F, 14, 15B, 17F, 18C, 19A, 19F, 20, 22F, 23F, 33F

Kalau sudah mendapatkan imunisasi IPD apakah masih harus mendapatkan imunisaasi HiB?

Masih, karena bakteri penyebabnya berlainan jenis. Jadi jadwal untuk HiB tetap berlaku, jadwal IPD juga berlaku.

(Sumber. Balita-Anda)